Whistleblowing dan Budaya Indonesia (2): Jarak Kekuasaan dan Penghindaran Ketidakpastian

image

Dari perspektif dimensi jarak kekuasaan, distribusi kekuasaan di Indonesia relatif  tidak setara dan masyarakat sangat menekankan senioritas dan mengakui adanya keistimewaan yang bersumber dari status kekuasaan yang sifatnya hirarkis.

Dalam konteks organisasi, dimensi ini terwujud dari perilaku bawahan yang selalu membutuhkan arahan dari atasan dan menunggu atasan untuk membuat keputusan akhir sebelum bertindak. Keputusan – keputusan penting dan strategis harus dikonsultasikan dengan atasan walaupun wewenang telah didelegasikan.

Jarak Kekuasaan

Budaya Indonesia dideskripsikan  sebagai budaya yang hirarkis. Manajer mengandalkan pada kepatuhan bawahan dan komunikasi atasan – bawahan cenderung dilakukan secara tidak langsung. Tidak ada pegawai yang ingin menjadi pembawa berita buruk seperti kegagalan mencapai tujuan atau hambatan operasional kepada atasan. Apabila terjadi konflik dalam organisasi, komunikasi secara langsung dianggap menciptakan ketidaknyamanan dan mengancam keharmonisan organisasi. Menurut filsafat jawa mikul dhuwur mendhem jero, bawahan diharapkan tidak berbicara (mengubur dalam-dalam) keburukan pimpinannya namun mengungkapkan (mengangkat tinggi-tinggi) prestasi dan kebaikannya.

Bawahan yang tunduk pada pimpinan merupakan hasil dari budaya yang menekankan pada:

  • aspek hormat,
  • nurut (mengikuti peraturan bapak),
  • manut (patuh tanpa mempertanyakan)
  • nrimo (menerima dengan kerelaan).

Di budaya organisasi ini, bawahan harus mengakui dan menghormati pangkat dan jabatan serta melaksanakan perintah yang diberikan atasan. Pegawai diharapkan menerima pendapat orang lain dengan rasa hormat  untuk menghindari konflik pribadi dan ketidakharmonisan dalam organisasi (Koentjaraningrat, 1985). Balasan dari kepatuhan tersebut adalah pimpinan mendengar permasalahan pribadi bawahan dan kemudian menunjukkan rasa simpati dan empatinya serta memberi nasehat. Dengan demikian, pemimpin dapat memperoleh loyalitas personal dari bawahannya (Efferin & Hopper, 2007).

Penghindaran Ketidakpastian

Untuk dimensi penghindaran ketidakpastian, ungkapan “asal bapak senang” menunjukkan bahwa pegawai akan diberikan penghargaan apabila dapat menyenangkan hati atasan dan hal tersebut berarti kestabilan ekonomi atau kestabilan jabatan yang mengurangi tingkat ketidakpastian bagi pegawai (G. Hofstede, 2014). Masyarakat Indonesia cenderung mencari cara menghindari ketidakpastian masa depan dengan bersandar pada norma-norma sosial dan peraturan formal namun, disisi lain, juga menerima cara-cara informal.

Budaya dan kepemimpinan seperti ini dapat menumbuhkembangkan dan dapat menghambat perilaku whistleblowing tergantung pada nilai mana yang lebih kuat mempengaruhi  seorang whistleblower potensial.

  • Filsafat Jawa mikul dhuwur mendhem jero menghambat perilaku whistleblowing apabila meniup peluit diinterpretasikan sebagai mengungkapkan keburukan;
  • Konsekuensi dari adanya nilai “asal bapak senang” adalah whistleblowing akan dilakukan apabila hal tersebut menyenangkan atasan dan akan berdiam diri apabila atasan tidak menyukai pegawainya ber-whistleblowing.
  • Bawahan yang patuh dan nrimo akan menerima dengan patuh dan rela pula apabila ia diperintahkan untuk tidak ber-whistleblowing. Apabila ia ber-whistleblowing namun tidak ditindaklanjuti maka ia juga akan patuh dan menerima juga.
  • Kecenderungan untuk mengutamakan komunikasi informal dan tidak langsungdan untuk menghindari risiko tidak disenangi atasan, bawahan mungkin juga menempuh whistleblowing anonim atau menggunakan cara lain untuk menyampaikan informasi mengenai pelanggaran yang terjadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top