
Terdapat dua jenis teknik dasar yang penting untuk dikuasai dalam melakukan penilaian risiko. Teknik yang pertama adalah teknik untuk mendapatkan pandangan, pendapat, persepsi dan fakta yang relevan. Teknik
ini bersifat umum dan dapat digunakan dalam tahap identifikasi, analisis, dan evaluasi risiko korupsi. Teknik ini antara lain mencakup:
- Curah pendapat,
- Teknik Delphi,
- Nominal group technique,
- Wawancara,
- Survei,
- Reviu dokumen, dan
- Observasi
Teknik–teknik tersebut pada umumnya dipadukan untuk kemudian dilanjutkan dengan teknik yang lebih spesifik dalam rangka menjabarkan data dan fakta ke dalam elemen–elemen yang lebih detail.
Teknik dasar kedua adalah teknik identifikasi risiko korupsi yang dilakukan dengan berbagai metode antara lain metode berbasis bukti, seperti reviu literatur dan analisis data historis, serta metode empiris seperti pengujian dan pemodelan untuk mengidentifikasi apa yang mungkin terjadi. Identifikasi risiko juga dapat dilakukan dengan teknik berbasis persepsi dengan melakukan survei. Teknik yang perlu diuraikan secara lebih mendalam adalah:
- Daftar uji, klasifikasi, dan taksonomi
- Analisis modus dan pengaruh kegagalan (Failure Modes and Effects Analysis dan Failure Modes and Effects and Criticality Analysis)
- Teknik Terstruktur Apa yang Terjadi Jika (Structured What If Technique (SWIFT)) (Saunders, Lewis, & Thornhill, 2016) (ISO, 2019).
Uraian masing–masing teknik disajikan berikut ini
Curah Pendapat (Brainstorming)
Curah pendapat adalah suatu istilah yang mewakili berbagai jenis diskusi kelompok, yaitu proses yang bertujuan menstimulasi dan mendorong peserta diskusi untuk mengembangkan gagasan yang terkait dengan satu atau beberapa topik diskusi. Untuk dapat menstimulasi kreativitas partisipan diskusi, curah pendapat perlu dilakukan dengan metode tertentu di mana analisis, evaluasi atau kritik terhadap suatu gagasan tertentu dilakukan secara terpisah dari sesi diskusi curah pendapat. Teknik ini efektif apabila terdapat ahli yang bertindak sebagai fasilitator yang mampu menstimulasi diskusi dan tidak membatasi berbagai pemikiran yang timbul.
Pada awalnya fasilitator memulai dengan pokok bahasan pancingan untuk kemudian diikuti dengan rangkaian curahan pemikiran dan pendapat yang saling terkait (train of thought). Tujuannya adalah mendapatkan sebanyak mungkin pendapat yang beragam. Fasilitator kemudian menstimulasi kelompok diskusi untuk menggali dan mengungkap area–area yang relevan dan memastikan ide–ide yang disampaikan dalam proses curah pendapat dapat ditangkap untuk kemudian dianalisis pada tahap selanjutnya. Tujuannya adalah mendapatkan sebanyak mungkin pendapat yang beragam
Curah pendapat: terstruktur dan tak terstruktur
Terdapat dua jenis curah pendapat: terstruktur dan tak terstruktur. Dalam curah pendapat terstruktur, fasilitator merinci topik diskusi dan mempersiapkan butir–butir pokok bahasan sebagai pemandu jalannya curah pendapat apabila suatu butir pokok bahasan telah tuntas dibahas. Curah pendapat tak terstruktur berjalan lebih informal. Dengan uraian pertanyaan dan urutan yang baku, curah pendapat terstruktur lebih dapat dilakukan analisis secara kuantitatif.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan brainstrorming, yaitu:
- Sekelompok orang cenderung menghasilkan lebih sedikit pendapat dibandingkan apabila orang–orang yang sama dimintakan pendapat secara individual.
- Dalam kelompok, pendapat orang cenderung menyempit dan menuju titik temu (converge) sedangkan pendapat yang dikemukakan secara individu lebih luas dan beragam (diverge).
- Menunggu giliran untuk bicara cenderung mengurungkan niat untuk menyampaikan gagasan.
- Orang cenderung kurang bekerja keras ketika berada dalam kelompok.
Sisi negatif ini dapat dikurangi dengan membuat kelompok yang beragam latar belakangnya, mengubah susunan kelompok, dan menyediakan waktu bagi peserta untuk bekerja secara individu, serta mengombinasikannya dengan teknik grup nominal. Penggunaan dua teknik ini diharapkan dapat mendorong partisipasi tiap peserta dalam mengidentifikasi elemen–elemen risiko. (Goldenberg & Wiley, 2011) (ISO, 2019)

Curah pendapat secara tertutup
Untuk isu-isu sensitif terkait pimpinan organisasi, misalnya risiko pengabaian pengendalian oleh pimpinan organisasi, curah pendapat dapat efektif apabila dilakukan secara tertutup bersama-sama dengan audit internal, auditor eksternal, komite kompensasi (untuk korporasi), unit SDM dan pejabat kepatuhan, tanpa kehadiran pimpinan organisasi. Agenda curah pendapat, misalnya mengenai:
- informasi yang diterima dari saluran whistleblowing/ pengaduan,
- bagaimana dan di mana korupsi mungkin terjadi,
- apa yang memotivasi pimpinan melakukan korupsi,
- bagaimana dan di mana pimpinan organisasi mungkin mengabaikan pengendalian,
- faktor eksternal dan internal yang memengaruhi organisasi dan dapat menciptakan insentif / dorongan atau tekanan bagi pimpinan melakukan korupsi, membuka kesempatan terjadinya korupsi, terbentuknya budaya atau lingkungan yang membuat manajemen mempunyai alasan, dan melakukan rasionalisasi atas korupsi yang dilakukannya.
Teknik Delphi
Metode ini berupaya mengumpulkan dan menyatukan penilaian dari sekelompok ahli untuk mendapatkan konsensus atas suatu topik dengan cara mengajukan pertanyaan secara sekuensial. Teknik delphi ini tepat untuk masalah yang kompleks di tingkatan strategis di mana terdapat beragam pendapat sehingga diperlukan konsensus atau rekonsiliasi di antara pada ahli.
Jumlah ahli dalam satu kelompok bervariasi tergantung permasalahan yang dihadapi. Ciri utama teknik delphi adalah:
- Para ahli menyampaikan pendapatnya secara individual, independen, dan anonim, namun mempunyai akses atas pendapat ahli lainnya seiring dengan kemajuan proses pelaksanaan teknik delphi;
- Terdapat beberapa putaran pertanyaan;
- Diberikannya umpan balik kepada para ahli di akhir putaran.
Anonimitas mengurangi dampak dari status, kepribadian, tekanan sosial dan tekanan rekan sejawat
Interaksi dan respons anonim akan menunjukkan posisi dan pendapat sebenarnya dari seorang ahli. Anonimitas tersebut mengurangi dampak dari status, kepribadian, tekanan sosial dan tekanan rekan sejawat yang mungkin timbul dari anggota kelompok diskusi. Adanya beberapa putaran pertanyaan dan pemberian umpan balik diyakini akan memadukan pendapat pada ahli secara perlahan dan persuasif. Hal ini meningkatkan konvergensi ide dan membantu penyelesaian masalah. (Chalmers & Armour, 2019)
Tahapan pelaksanaan teknik delphi sebagai berikut:
- mendefinisikan masalah,
- menetapkan fasilitator, mengidentifikasi ahli yang akan diikutsertakan, membentuk panel ahli,
- putaran ahli 1: mengajukan pertanyaan umum untuk mendapatkan pandangan umum dari para ahli, mengumpulkan informasi yang didapatkan pada putaran pertama, melakukan analisis dan membuat ringkasan sementara, mengelaborasi isu untuk diklarifikasi lebih lanjut dan menyusun pertanyaan lebih dalam untuk disampaikan kepada panelis;
- putaran ahli 2: panelis merespons pertanyaan baru atau mempertimbangkan kembali jawaban awal yang penah diberikan, dan memberikan tanggapan atas informasi hasil putaran pertama tersebut;
- proses diulang sampai dengan tercapai konsensus sementara atau konsensus akhir, dan
- menyusun laporan akhir.
Tabel 2 menyajikan beberapa keunggulan dan kelemahan teknik delphi.

Teknik Grup Nominal
Teknik Grup Nominal digunakan untuk mengembangkan konsensus formal di antara sekelompok ahli dengan cara mengajukan pertanyaan yang terstruktur dan telah disiapkan sebelumnya. Fitur utama dari teknik ini adalah pertemuan yang efisien. Dengan satu kali pertemuan didapatkan banyak informasi. Teknik ini juga tidak terlalu banyak memerlukan persiapan dari sisi partisipan, misalnya membaca materi atau mengisi kuesioner. Teknik ini memberi kesempatan untuk saling mengklarifikasi di antara para ahli. Selain itu, fasilitator tidak perlu berupaya mengatasi keragaman opini agar seolah–olah tercipta konsensus. (Harvey & Holmes, 2012)
Fasilitator tidak perlu berupaya mengatasi keragaman opini agar seolah–olah tercipta konsensus
Tahapan proses teknik grup nominal secara umum sebagai berikut:
- pengantar penjelasan umum dan fasilitator memberikan pertanyaan kepada setiap anggota kelompok,
- partisipan menuliskan tanggapannya secara mandiri dan tidak menyampaikannya kepada partisipan lainnya (silent generation of ideas)
- setiap peserta kemudian menyajikan, namun tidak mendiskusikannya, dan tidak ada perdebatan mengenai pendapat individu, dan
- setelah seluruh gagasan disajikan, dilakukan diskusi kelompok, membuat simpulan, dan mengambil keputusan kelompok.
Apabila dinamika kelompok menunjukkan satu atau lebih partisipan lebih dominan dalam menyuarakan pendapatnya, pendapat partisipan dapat disampaikan kepada fasilitator secara anonim. Dalam diskusi kelompok, partisipan dapat meminta penjelasan kepada fasilitator dan para partisipan membahas pendapat untuk menghasilkan beberapa opsi yang disepakati. Dalam mengambil keputusan, partisipan dapat memberikan suara secara rahasia atas beberapa opsi yang lahir dari diskusi dan mengambil keputusan kelompok melalui pemungutan suara (voting and ranking). Tabel 3 menyajikan beberapa keunggulan dan kelemahan teknik grup nominal.

Wawancara Individual
Teknik wawancara ini adalah percakapan verbal untuk mendapatkan informasi di mana pewawancara mengajukan pertanyaan dan interviewee menanggapi pertanyaan. Wawancara individual merupakan cara untuk mendapatkan informasi atau pendapat yang mendalam terutama dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk mengumpulan banyak orang dalam satu waktu dan satu tempat. Wawancara individual tepat untuk topik yang sensitif yang kurang dapat dibahas dengan banyak orang.
Dengan melakukannya secara individual, informasi yang didapatkan diharapkan tidak menjadi bias karena pendapat pihak lain dalam suatu kelompok. Terwawancara dapat menyampaikan informasi rahasia yang mungkin enggan disampaikan dalam diskusi kelompok.
Wawancara dilaksanakan dengan tujuan untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai opini, pemikiran, pengalaman, dan persepsi seseorang (pimpinan atau pegawai organisasi). Wawancara dapat dilakukan kepada berbagai pihak yang terkait dengan risiko korupsi dan kerentanan organisasi. Dalam melakukan wawancara, perlu dipastikan seleksi interviewee yang bebas dari bias. Interviewee yang kurang mempunyai komitmen organisasional akan cenderung mengungkapkan permasalah korupsi di organisasi.
Interpretasi atas informasi yang didapatkan perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya bias agar terhindar dari generalisasi yang tidak tepat
Hal ini dapat menimbulkan kesan adanya permasalahan yang lebih luas dibandingkan kondisi faktualnya. Interpretasi atas informasi yang didapatkan perlu mempertimbangkan kemungkinan bias tersebut agar terhindar dari generalisasi yang tidak tepat. Pertanyaan wawancara juga perlu didesain untuk tidak bias secara sistematis dalam bentuk pertanyaan yang mengarah pada jawaban yang diinginkan (leading question).
Wawancara Terstruktur dan Semi Terstruktur
Terdapat dua jenis wawancara, yaitu terstruktur dan semi terstruktur. Dalam wawancara yang terstruktur, interviewee diberikan pertanyaan baku yang telah disiapkan terlebih. Pertanyaan semi terstruktur memungkinkan lebih banyak kebebasan untuk mengeksplorasi area–area topik pembahasan tertentu. Pertanyaan wawancara perlu sejauh mungkin merupakan pertanyaan terbuka, disampaikan dengan jelas dan sesuai dengan latar belakang interviewee. Wawancara terstruktur lebih tepat untuk mendapatkan informasi umum pada berbagai unit kerja atau berbagai lokasi organisasi. Wawancara tak terstruktur lebih tepat untuk mengali lebih dalam informasi yang spesifik dari interviewee tertentu.
Tabel 4 menyajikan beberapa keunggulan dan kelemahan wawancara individual.

Survei
Survei dalam rangka penilaian risiko korupsi dapat dilakukan terhadap sampel yang besar untuk mendapatkan data statistik dan meyakini akurasi model statistik atau kepada responden yang terfokus untuk mendapatkan data yang detail dan mendalam. Survei korupsi dapat tertuju pada:
- persepsi mengenai risiko dan kejadian korupsi,
- pengalaman mengenai korupsi, atau
- sikap terhadap korupsi.
Survey masal untuk responden yang tersebar luas menggunakan kuesioner baku dengan pertanyaan atau pernyataan yang singkat, padat dan jelas, serta pilihan jawaban dalam bentuk ya/tidak atau skala penilaian tertentu. Kuesioner merupakan instrumen pengumpulan data yang memuat serangkaian pertanyaan dengan atau tanpa pilihan jawaban mengenai preferensi, perilaku, fakta, sikap, atau sifat. Kuesioner ditujukan kepada berbagai pihak yang terkait dengan harapan dapat menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai pihak. Kuesioner bertujuan untuk mendapatkan gambaran faktual ataupun persepsi para pegawai dan para pemangku kepentingan mengenai kerentanan organisasi. Data hasil kuesioner yang telah terkumpul kemudian dilakukan proses analisis statistik deskriptif dan/atau analisis statistik inferensial.
Tabel 5 menyajikan beberapa keunggulan dan kelemahan survei.

Reviu Dokumen
Reviu dokumen adalah proses menelaah, menilai, dan mengevaluasi dokumen tertentu untuk memberikan keyakinan bahwa dokumen tersebut secara substansi telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Reviu dokumen dilaksanakan terhadap peraturan, surat keputusan, pedoman, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis, panduan, prosedur baku kegiatan (SOP), surat edaran, surat, notula rapat, materi dalam majalah, atau catatan tertulis lainnya yang terkait dengan penilaian risiko korupsi organisasi.
Reviu dokumen dilakukan dengan memahami informasi dalam dokumen secara detail dan menginterpretasikannya berdasarkan teori–teori yang relevan. Reviu dokumen juga mencakup memahami latar belakang dan proses dokumen dihasilkan untuk dapat memahami konteksnya, membandingkan materi antar dokumen, dan melakukan pengujian dengan data dari dokumen lain atau bukti lain.
Observasi
Obervasi adalah peninjauan secara cermat, yaitu proses mengumpulkan informasi mengenai suatu obyek, tempat, fasilitas, transaksi, dan aktivitas organisasi dan pemangku kepentingan organisasi dengan menggunakan kelima indra secara langsung pada saat kegiatan berlangsung untuk mengenali hal–hal spesifik yang terkait dengan risiko korupsi.
Informasi yang didapatkan secara langsung dan realtime memungkinkan dilakukan analisis terhadap faktor–faktor situasional dan kontekstual. Observasi juga memungkinkan didapatkan informasi yang partisipan wawancara atau diskusi terlupa, enggan untuk mengungkapkan atau kurang mengetahui kondisi di lapangan.