Skema Korupsi dan Skenario Korupsi: Think Like A Fraudster

image

Skema korupsi menggambarkan secara umum proses perbuatan korupsi. Skema korupsi dapat dibagi menurut akun dalam laporan keuangan, misalnya skema korupsi penjualan, skema korupsi pembelian, skema korupsi penggajian pegawai, atau dibagi menurut proses bisnis utama, misalnya skema korupsi penerbitan izin usaha atau skema korupsi pemungutan pajak daerah.

Skema korupsi juga disusun berdasarkan jenisnya, misalnya skema penyuapan, skema kickback, dan skema pemerasan. Contoh berikut ini menguraikan beberapa skema tersebut.

image

Menyusun berbagai skenario korupsi

Proses selanjutnya adalah menyusun berbagai skenario korupsi untuk setiap skema. Tim penyusun skenario perlu melakukan analisis skenario, yaitu teknik untuk mengembangkan model bagaimana gambaran kejadian di masa depan mungkin terwujud. Teknik ini berupaya menyusun berbagai skenario dengan berbagai kemungkinan peristiwa yang dapat terjadi dan berkembang. Untuk skenario jangka pendek, teknik ini mencakup ekstrapolasi atas kejadian–kejadian di masa lalu. Untuk skenario jangka panjang, analisis dapat mencakup pengembangan skenario imajinatif dan mengeksplorasi implikasi dari skenario tersebut, serta risiko–risikonya.

Analisis dapat mencakup pengembangan skenario imajinatif dan mengeksplorasi implikasi dari skenario tersebut

Secara umum terdapat dua cara menyusun skenario:

  • melakukan analisis peristiwa historis, dan
  • mengonstruksi kejadian yang bersifat hipotetis.

Peristiwa historis berbasis skenario dapat mencakup peristiwa aktual yang terjadi di organisasi sendiri atau di organisasi lain. Penyusunan skenario hipotetis penting untuk dilakukan dalam rangka melengkapi kekosongan peristiwa yang timbul dari tidak terjadinya suatu peristiwa aktual. Penggunaan dua pendekatan ini diharapkan menghasilkan skenario yang komprehensif (Pareek, 2012).

Penyusunan skenario hipotetis penting untuk dilakukan dalam rangka melengkapi kekosongan peristiwa yang timbul dari tidak terjadinya suatu peristiwa aktual

Kelemahan pendekatan ini antara lain adalah pada umumnya berlandaskan pada data yang spekulatif, sedangkan keunggulannya antara lain adalah:

  • mempertimbangkan berbagai kemungkinan di masa mendatang,
  • tepat untuk pendekatan tradisional bahwa masa depan mengikuti kecenderungan masa lalu,
  • tepat untuk pada saat menghadapi situasi kurangnya pengetahuan untuk memprediksi masa mendatang,
  • mendukung berkembangnya keragaman pemikiran, dan
  • dapat diketahuinya leading indicator perubahan untuk selanjutnya dilakukan pemantauan  (ISO, 2019).

‘Think like a thief’ atau ‘think like a fraudster’.

Penyusunan skenario korupsi dapat berkembang lebih optimal apabila menerapkan sikap ‘think like a thief’ atau ‘think like a fraudster’. Organisasi perlu berpikir seperti koruptor dan melampaui tingkat kecerdasan para koruptor untuk dapat mengelola risiko korupsi secara efektif. Aktor korupsi memahami dan menguasai seluk beluk peraturan, desain pengendalian, kebijakan dan tindakan pengendalian, serta berbagai instrumen pengendalian yang digunakan organisasi.

Aktor korupsi mampu menggali dan menemukenali setiap kelemahan pengendalian dan memanfaatkan setiap kesempatan korupsi yang dibuka atau terbuka. Aktor korupsi kemudian menggunakannya sebagai akses masuk ke dalam sistem organisasi dan mulai mengeksploitasinya. Organisasi perlu mempunyai tingkat kecerdasan melampaui kecerdasan tersebut.

Penyusunan skenario korupsi dapat berkembang lebih optimal apabila menerapkan sikap think like a thief atau think like a fraudster

Setelah dapat mereplikasi pemikiran seorang aktor korupsi, organisasi perlu mengembangkannya dengan cara yang lebih kreatif. Penyusunan skenario korupsi perlu didekati dari berbagai sudut pandang dan tidak terpaku dengan pemikiran aktor korupsi yang sekadar melakukan penyimpangan dari peraturan. Korupsi justru disembunyikan dengan cara seolah–olah mematuhi peraturan, atau bahkan membuat peraturan baru. Teori–teori korupsi yang telah dibahas sebelumnya seperti fraud triangle, teori ABC, dan teori normalisasi korupsi merupakan pondasi awal untuk berpikir seperti seorang fraudster.

Korupsi terjadi ketika aktor korupsi bertemu dengan sesuatu yang bernilai. Nilai tersebut berwujud dalam berbagai bentuk, misalnya kas, persediaan dan peralatan, paten, dan hak cipta, serta informasi dan pengetahuan yang dimiliki organisasi (Petrucelli, 2012).

Menyusun skenario korupsi yang kontekstual

Penyusunan skenario korupsi adalah upaya untuk memahami siapa, apa, dan bagaimana interaksi aktor korupsi tersebut terjadi. Skema korupsi yang telah diidentifikasi sebelumnya dibedah dan diuraikan sesuai dengan sistem dan proses aktual dalam organisasi. Penyusun skenario korupsi perlu melakukan analisis keterpaparan korupsi, yaitu bagaimana aktor korupsi berinteraksi dengan organisasi.

Hal ini bertujuan untuk menyusun skenario korupsi yang kontekstual. Skenario merupakan rangkaian peristiwa yang dikembangkan secara berurutan. Skenario juga memuat berbagai informasi mengenai berbagai hal yang terkait seperti lokasi, karakteristik, pihak yang terlibat dan aspek lainnya yang berkontribusi, agar skenario semakin tergambar secara realistis. Skenario korupsi haruslah menggambarkan adanya bahaya korupsi, ancaman korupsi, aktor korupsi, metode korupsi, metode penyembunyian, dan elemen–elemen teori korupsi lainnya yang dipandang perlu (Vona L. W., 2008).

Skenario korupsi pada dasarnya adalah menggambarkan bagaimana aktor korupsi dapat mengalahkan sistem pengendalian. Aksi eksploitasi aktor korupsi tersebutdapat digambarkan dengan utuh apabila penyusun skenario tidak berasumsi bahwa pengendalian terpasang telah berjalan efektif. Asumsi tersebut dapat menghasilkan gambaran yang bias.

Pertanyaan 5W dan 2H

Penyusun skenario korupsi perlu mempunyai sikap ‘think like a fraudster’ dalam mengembangkan skenario korupsi. Sikap tersebut diwujudkan dengan menjawab pertanyaan who, what, when, where, why, serta how dan how much. Pertanyaan 5W dan 2H ini menjadi pertanyaan yang diajukan secara iteratif untuk mendapatkan jawaban yang semakin rinci (lihat Tabel 2).

Sebagian dari jawaban atas pertanyaan 5W2H pada Tabel 2 didapatkan pada tahapan analisis risiko korupsi dan evaluasi risiko korupsi. Untuk tahap identifikasi risiko, informasi yang didapatkan cukup mencakup tiga hal, yaitu siapa (aktor), bagaimana (aksi), dan apa hasil dari aksi korupsi tersebut.

image

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top