Selera dan Toleransi Risiko: Formal dan Terdokumentasikan

image

Pengaruh sikap terhadap risiko terhadap proses manajemen risiko di atas menunjukkan bahwa sikap risiko diejawantahkan dalam bentuk perilaku yang mencerminkan cara berpikir, merasa, dan cara mempersepsikan suatu risiko. Sikap yang telah diambil tersebut perlu dirumuskan dalam bentuk pernyataan formal mengenai:

  • selera risiko, dan
  • toleransi risiko.

Hal ini penting agar sikap yang diambil dapat dioperasionalisasikan dalam proses manajemen risiko selanjutnya. Selera risiko dan toleransi risiko yang dinyatakan secara verbal, informal, dan tidak terdokumentasi kurang dapat menjadi acuan bagi pemilik risiko di berbagai unit kerja dalam organisasi dalam mengelola risiko.

Selera risiko adalah pernyataan umum mengenai besaran dan jenis risiko yang bersedia diambil dan ditanggung oleh organisasi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Konsep ini menunjukkan tingkatan ketidakpastian yang bersedia diterima oleh organisasi. Selera risiko tergantung pada besarnya kapasitas untuk menanggung risiko dan tingkat maturitas manajemen risiko. Selera risiko diintegrasikan ke dalam proses pengambilan keputusan agar manajemen sumber daya terintegrasi dengan misi dan visi organisasi (ISO, 2009)  (PMI, 2017).

Dalam konteks manajemen risiko korupsi, selera risiko korupsi dapat didefinisikan sebagai pernyataan umum mengenai besaran tingkat risiko korupsi yang dapat diterima.

Karakteristik Selera Risiko

Selera risiko dimaknai secara beragam, namun dapat disarikan beberapa karakteristik umum, yaitu:

  • Diterapkan pada tahap pengembangan strategi dan penetapan tujuan dan sasaran organisasi,
  • Terkait dengan cara bagaimana organisasi mencapai tujuan dan sasaran organisasi,
  • Fokus pada tujuan dan sasaran organisasi secara keseluruhan agar dapat membantu pengambilan keputusan dan penilaian kinerja organisasi secara keseluruhan dan mendorong dilakukannya perubahan yang diperlukan untuk mengembalikan organisasi pada jalur tujuannya (Martens & Rittenberg, 2020) (UK-GFF, 2021).

Selera risiko tergantung pada besarnya kapasitas untuk menanggung risiko dan tingkat maturitas manajemen risiko

Selera risiko dapat berupa satu pernyataan umum yang dapat diaplikasikan secara luas di seluruh bagian organisasi. Namun demikian, satu pernyataan umum tersebut tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan variasi penerapan di berbagai unit kerja dalam organisasi. Pernyataan selera risiko yang bersifat umum juga perlu terjaga relevansinya dengan perubahan kondisi operasi dan bisnis organisasi. Organisasi dapat pula menetapkan selera risiko di area-area tertentu yang mempunyai risiko yang unik.

Perumusan Pernyataan Selera Risiko

Pernyataan selera risiko dirumuskan dan ditetapkan atas persetujuan pimpinan organisasi untuk menjaga kesesuaiannya dengan sebesar-besarnya kepentingan para pemangku kepentingan. Setelah didefinisikan, selera risiko dikomunikasikan ke seluruh organisasi untuk memastikan pemahaman dan kesamaan persepsi. Hal ini penting mengingat sikap terhadap risiko dipengaruhi oleh persepsi dan persepsi tersebut adalah faktor pemicu kemungkinan terjadinya bias baik dalam pengambilan keputusan maupun proses manajemen risiko. (Hillson & Murray-Webster, 2005) (Hillson, 2009).

sikap terhadap  risiko dipengaruhi oleh persepsi dan persepsi tersebut adalah faktor pemicu kemungkinan terjadinya bias

Definisi Toleransi Risiko

Dibandingkan dengan konsep selera risiko, toleransi risiko didefinisikan secara lebih sempit, yaitu rentang variasi dari tujuan dan sasaran organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya yang masih bisa diterima.

Toleransi risiko dimaknai secara beragam, namun dapat disarikan beberapa karakteristik umum, yaitu:

  • menunjukkan kesiapan organisasi atau pemangku kepentingan untuk menanggung suatu risiko sebelum dilakukan pun setelah dilakukan respons dan pengendalian risiko.
  • merupakan penjabaran (cascade) dari selera risiko korupsi, dan
  • operasionalisasi dari selera risiko korupsi yang bersifat umum seperti pernyataan rendah, sedang, dan tinggi menjadi pernyataan toleransi risiko yang spesifik dengan ukuran kuantitatif.

Toleransi risiko korupsi fokus pada kinerja pencapaian tujuan, yaitu variasi (penyimpangan) dari target, rencana atau standar tertentu. Informasi mengenai tolerasi risiko yang terkait dengan variasi (penyimpangan) ini diharapkan dapat membantu pengambilan keputusan dan pemantauan oleh penanggung jawab pengelolaan risiko, serta penilaian kinerja atas tujuan dan sasaran tersebut. Tujuan yang menjadi fokus perumusan toleransi risiko mencakup keseluruhan kategori, yaitu tujuan strategis, operasi, pelaporan, dan kepatuhan.

Eksak, Akurat, dan Rinci

Pernyataan selera risiko kemudian perlu dirumuskan dengan eksak, akurat, dan rinci, menggunakan unit pengukuran yang sama dengan ukuran keberhasilan pencapaian tujuan dan sasarannya sehingga dapat:

  • diterapkan pada tahap eksekusi strategi tertentu dan ukuran kinerja tertentu, dan
  • membantu meyakinkan bahwa organisasi beroperasi masih di dalam rentang selera risiko.

Toleransi risiko ditetapkan sebelum strategi dieksekusi untuk menjadi acuan ketika kinerja aktual berada di luar batas toleransi

Toleransi risiko ditetapkan sebelum strategi dieksekusi untuk menjadi acuan ketika kinerja aktual berada di luar batas toleransi. Ketika kinerja aktual berada di luar batas toleransi, pimpinan organisasi perlu mengambil lebih banyak risiko atau membatasi atau mengurangi risiko yang akan diambil. Risiko yang melebihi ambang batas risiko berarti risiko tersebut perlu direspons agar tidak melebihi kapasitas risiko yang dapat ditangani oleh organisasi (Rittenberg & Martens, 2012).

ALARP dan SFAIRP

ALARP dan SFAIRP merupakan kriteria untuk menguji akseptabilitas atau tolerabilitas suatu risiko dan menilai apakah cukup praktis untuk melakukan suatu tindakan untuk menguranginya. ALARP secara umum mensyaratkan risiko dikurangi serendah mungkin sampai pada tingkat tidak lagi cukup praktis untuk menurunkannya lebih rendah. ALARP memandang dari sisi risiko, sedangkan SFAIRP memandang dari sisi pengendalian, yaitu menerapkan pengendalian sejauh mungkin sampai penanganan lebih jauh dipandang tidak lagi praktis (lihat Diagram 1).

Model ALARP ini mengklasifikasikan risiko kedalam tiga kategori, yaitu:

  • Kategori risiko yang tidak dapat ditoleransi,
  • Kategori risiko yang dapat diterima, yaitu risiko yang sedemikian rendah sehingga tidak perlu dipertimbangkan perlunya pengurangan tingkat risiko lebih jauh lagi (namun dapat diterapkan apabila dipandang praktis dan beralasan), dan
  • Area ALARP, yaitu area di antara batas–batas di mana pengurangan risiko lebih jauh harus diimplementasikan apabila memenuhi kriteria kepraktisan.
image

Kedua prinsip ini dipandang mendukung prinsip kemanfaatan dalam pengurangan risiko di mana tidak diwajibkan untuk berupaya mengurangi risiko apabila tidak lagi praktis. Dalam menentukan batas akseptabiltas dan tolerabilitas tersebut perlu menggunakan metodologi yang transparan dan obyektif untuk membahas dan menentukan risiko yang dapat diterima atau dapat ditoleransi antara lain dengan berkonsultasi dengan pemangku kepentingan.

Rentang nilai yang telah ditentukan menjadi acuan bagi risiko untuk dapat dikategorikan sebagai kurang terkelola (under managed) atau terkelola secara berlebihan (over managed)

Tingkat toleransi risiko dapat ditetapkan dalam suatu angka tunggal tertentu atau dalam suatu rentang nilai. Rentang nilai yang telah ditentukan menjadi acuan bagi risiko untuk dapat dikategorikan sebagai kurang terkelola (under managed) atau terkelola secara berlebihan (over managed). Risiko yang kurang terkelola menunjukkan aktivitas dan praktik manajemen risiko tidak menghasilkan cukup keyakinan bahwa sasaran dan tujuan organisasi akan tercapai. Risiko yang terkelola secara berlebihan (over managed) adalah tingkat keyakinan yang dicapai tidak seimbang dengan waktu, upaya dan sumber daya yang dikeluarkan untuk mengelola risiko tersebut. (Fraser & Simkins, 2010) (Fraser, Simkins, & Narvaez, 2015)

Pertimbangan dalam Penentuan Toleransi Risiko

Tidak terdapat rumus untuk menentukannya, namun, selain sikap organisasi terhadap risiko tersebut, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan, yaitu:

  • parameter keberhasilan pencapaian tujuan, serta faktor-faktor yang memengaruhi kinerja organisasi,
  • tingkat pentingnya suatu tujuan dan sasaran di mana tujuan yang dipandang lebih penting akan mempunyai tolerasi risiko yang lebih rendah,
  • kapabilitas organisasi mengelola risiko baik dari sisi kapasitas (misal: keuangan, sumber daya manusia, infrstruktur) dan maturitas manajemen risiko,
  • kapasitas organisasi untuk menanggung potensi kerugian dan dampak buruk lainnya, serta
  • biaya dan manfaat mengelola risiko (Fraser, Simkins, & Narvaez, 2015) (Anderson, 2011)  (Martens & Rittenberg, 2020).

Selain itu, perlu ditekankan bahwa selera risiko dan toleransi risiko merupakan pernyataan nilai organisasi untuk menjadi acuan perilaku atau keputusan apa yang dipandang baik dan tepat. Pernyataan tersebut bukanlah semacam pemberian izin untuk mengambil risiko.  (GCF, nd) (Rittenberg & Martens, 2012). Tabel 1 menggambarkan beberapa contoh rumusan selera risiko dan toleransi risiko.

image

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top