Teori Fraud Triangle dan Perkembangannya

image

Teori Fraud Triangle merupakan teori yang banyak diacu oleh peneliti dan cendekia dalam menganalisis kejadian korupsi. Dalam perjalanannya, teori ini kemudian berkembang menjadi fraud diamond dan fraud pentagon diikuti dengan berbagai rerangka lain sejenis (lihat Tabel 1).

Image 11

Menurut model fraud triangle (Cressey, 1953), terdapat tiga elemen yang perlu ada untuk suatu fraud dapat terjadi, yaitu tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi (lihat Diagram 1). Elemen tekanan (elemen 1) merupakan permasalahan keuangan yang tidak dapat diungkapkan kepada pihak lain (non-shareable) dan pelaku menyadari bahwa permasalahan tersebut dapat secara diam-diam dipecahkan dengan melakukan fraud.

Image 12

Masalah keuangan tersebut dipecahkan dengan cara memanfaatkan kesempatan (elemen 2) yang dimilikinya sebagai pemegang amanah jabatan. Pelaku juga mampu merasionalisasi tindakannya (elemen 3) dengan menyesuaikan dua konsepsi diri, yaitu konsepsi dirinya sebagai orang yang amanah dengan konsepsi dirinya sebagai pengguna dana atau properti yang diamanahkan kepadanya (Kranacher & Riley, 2019).

Seseorang melakukan korupsi, misalnya, karena dalam tekanan keuangan akibat dari gaya hidup yang berlebihan. Tekanan tersebut disertai dengan kelemahan pengendalian intern yang membuka kesempatan untuk melakukan korupsi. Aspek rasionalisasi merupakan pembenaran atas tindakan korupsi yang telah dilakukan, seperti penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan ekonominya atau tindakannya juga dilakukan rekan kerja lainnya.

Model fraud triangle ini dipandang mengandung beberapa kelemahan antara lain kurang dapatnya elemen tekanan dan elemen rasionalisasi diobservasi. Elemen rasionalisasi disarankan diganti dengan integritas personal yang dipandang lebih dapat diamati (Kassem & Higson, 2012).

Wolfe & Hermanson (2004) memperluas fraud triangle dengan menambahkan elemen keempat, yaitu kapabilitas dan menjadikannya sebagai fraud diamond. Menurut model fraud diamond, ketiga elemen fraud triangle perlu ada, namun tidaklah cukup. Kejadian fraud memerlukan elemen keempat, yaitu kapabilitas. Kapabilitas untuk melakukan fraud adalah pelaku yang mempunyaisifat, karakteristik, dan kemampuan tertentu yang memungkinkan ia:

  • melihat adanya kesempatan untuk melakukannya, dan
  • merealisasikannya.

Model fraud triangle dan perkembangannya menunjukkan berkelindannya faktor sosial–psikologis dan faktor organisasi sebagai penyebab terjadinya korupsi

Seiring dengan perkembangan tingkat pendidikan, perubahan budaya, teknologi, dan status sosial yang memengaruhi perilaku, fraud triangle juga diperluas oleh Marks (2012) dengan menambahkan dua elemen penting, yaitu kompetensi dan arogansi. Dua elemen ini mengubah fraud triangle menjadi fraud pentagon (Marks J. , 2012) (Marks J. T., 2018). Kassem & Higson (2012) juga memperkenalkan model baru yang terdiri dari empat dimensi, yaitu:

  • motivasi,
  • kapabilitas
  • kesempatan, dan
  • integritas personal.

Menurut model ini, integritas personal penting dikemukakan karena pengaruhnya terhadap rasionalisasi dan justifikasi. Model fraud triangle dan perluasannya ini selaras dengan pendapat Aguilera & Vadera (2008) yang mengemukakan model sejenis, yaitu “kesempatan–motivasi–justifikasi” dan pendapat Zyglidopoulos, Dieleman, & Hirsch (2019) yang mengemukakan pendapat “kesempatan–risiko–kemauan–kapabilitas”. Model ini menunjukkan berkelindannya faktor sosial–psikologis dan faktor struktural organisasi sebagai penyebab terjadinya korupsi. Pengembangan fraud triangle juga mencakup masing-masing dari tiga elemen fraud triangle, yaitu opportunity triangle, rasionalisation triangle, dan pressure triangle (lihat Diagram 2).

Image 14

Segitiga kesempatan memaknai kesempatan sebagai kondisi atau situasi di mana seseorang menjadi mampu berbuat, menyembunyikan bukti perbuatannya (tidak atau sulit terdeteksi), dan mengonversi hasil yang didapatkan untuk keuntungan sendiri atau pihak lain. Menurut konsep segitiga rasionalisasi, pembenaran, dan alasan seseorang melakukan fraud dapat berbentuk justiifkasi (saya melakukannya karena kecilnya gaji yang saya terima), sikap (larangan menerima gratifikasi itu tidak berlaku buat saya), dan kurangnya integritas personal (uang suap ini lebih penting buat saya daripada reputasi organisasi).

Tekanan terdiri atas dua jenis segitiga, yaitu employee pressure triangle dan financial statement pressure triangle. Tekanan pada pegawai terdiri atas tekanan keuangan, gaya hidup, dan emosional, sedangkan tekanan laporan keuangan terdiri atas tekanan keuangan, kondisi industri, dan karakteristik manajemen. (Romney M. B., Steinbart, Summers, & Wood, 2021).

Tabel 2 menyajikan definisi dari elemen–elemen yang terkandung dalan model Fraud Triangle, Fraud Diamond dan Fraud Pentagon. Uraian masing–masing elemen fraud triangle dan perluasannya, yaitu: (a) motivasi, tekanan dan insentif (b) kesempatan, (c) kompetensi dan kapabilitas (d) justifikasi (rasionalisasi), serta (e) arogansi disajikan kemudian sebagai bagian dari analisis kerentanan organisasi. Elemen justifikasi dan rasionalisasi akan diuraikan lebih mendalam pada tulisan selamnjutnya sebagai bagian dari pembahasan proses normalisasi korupsi.

image

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top